Thursday, October 29, 2026

Nikkei Anjlok, Saham Teknologi Jepang Kembali Tertekan!

 


PT Rifan - Bursa saham Jepang kembali melemah pada perdagangan Jumat (30/10/2026), dengan indeks Nikkei 225 turun sekitar 1,3% hingga bergerak di bawah level 64.000. Penurunan tersebut mengakhiri tren penguatan selama tiga sesi berturut-turut, seiring meningkatnya tekanan jual pada saham-saham teknologi dan semikonduktor. Sentimen negatif muncul setelah laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi Amerika Serikat mengecewakan investor, sehingga memicu kekhawatiran baru mengenai besarnya biaya investasi kecerdasan buatan (AI) dan prospek keuntungan industri teknologi global.

Tekanan terhadap sektor teknologi meningkat setelah saham Amazon merosot sekitar 7% dalam perdagangan setelah jam bursa menyusul pengumuman peningkatan tajam belanja modal. Sementara itu, saham Intel anjlok sekitar 23% setelah perusahaan menyampaikan proyeksi kinerja kuartalan yang lebih lemah dari perkiraan serta mengindikasikan perlambatan pasar komputer pribadi. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran investor bahwa besarnya pengeluaran untuk pengembangan AI belum tentu langsung menghasilkan pertumbuhan keuntungan yang sebanding.

Di Jepang, pelemahan terjadi secara luas pada saham-saham yang berkaitan dengan teknologi dan industri semikonduktor. Kioxia Holdings turun sekitar 6%, Tokyo Electron melemah 3,6%, sementara Advantest terkoreksi 6,1%. Saham SoftBank Group juga kehilangan 4,9%, sedangkan Lasertec mengalami penurunan lebih tajam sebesar 9,1%. Investor kini menantikan laporan keuangan Kioxia dan Tokyo Electron untuk mendapatkan gambaran mengenai permintaan cip, perkembangan investasi AI, serta prospek pertumbuhan industri teknologi Jepang pada beberapa kuartal mendatang.

Selain laporan keuangan, perhatian pasar tertuju pada keputusan kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ) yang dijadwalkan diumumkan pada Jumat. Bank sentral Jepang secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga, tetapi pelaku pasar akan mencermati kemungkinan sinyal pengetatan lanjutan di tengah tekanan inflasi dan pergerakan yen. Jika BOJ memberikan pernyataan lebih hawkish dari perkiraan, saham teknologi berpotensi menghadapi tekanan tambahan akibat meningkatnya biaya pembiayaan. Dengan demikian, arah Nikkei berikutnya akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan teknologi membuktikan hasil investasi AI serta sikap BOJ terhadap prospek suku bunga Jepang. PT Rifan.

Sumber : NewsMaker

Wednesday, October 28, 2026

Nikkei Naik Tiga Hari Beruntun

 


PT Rifan Financindo Berjangka - Indeks Nikkei 225 menguat sekitar 0,9% hingga menembus level 64.500 pada perdagangan Kamis(29/10), memperpanjang kenaikan selama tiga sesi berturut-turut. Sentimen pasar mendapat dukungan setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi, sementara saham teknologi kembali memimpin penguatan bursa Jepang.

The Fed mempertahankan suku bunga, meski dua pejabat bank sentral berbeda pendapat dan mendukung kenaikan. Keputusan tersebut membuat investor tetap mencermati arah kebijakan moneter AS berikutnya, terutama setelah tekanan inflasi masih menjadi perhatian dan peluang pengetatan lanjutan belum sepenuhnya tertutup.

Dari sektor teknologi global, laporan keuangan perusahaan berkapitalisasi besar memberikan sinyal beragam. Pendapatan Alphabet berada di bawah ekspektasi pasar, sedangkan Microsoft membukukan kinerja kuartalan yang lebih kuat dari perkiraan. Perkembangan tersebut membuat investor tetap selektif terhadap saham berbasis teknologi dan kecerdasan buatan.

Di Jepang, saham teknologi kembali menjadi motor utama kenaikan. Kioxia melonjak sekitar 8%, Advantest naik 7,7%, dan Ibiden menguat 5%. Sektor keuangan juga mencatat penguatan, dengan Mitsubishi UFJ dan Mizuho Financial masing-masing naik 1,7%, sementara Sumitomo Mitsui bertambah 1,4%.

Fokus investor selanjutnya beralih ke keputusan kebijakan Bank of Japan. BOJ diperkirakan mempertahankan suku bunga, tetapi pasar akan mencari sinyal mengenai kemungkinan kenaikan pada Desember di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi. Nada kebijakan BOJ akan menjadi faktor penting bagi pergerakan yen serta kelanjutan momentum Nikkei. PT Rifan Financindo Berjangka.

Sumber : NewsMaker

Tuesday, October 27, 2026

Nikkei Rebound 1,73%, Saham AI Kembali Jadi Penggerak

 


PT Rifan Financindo - Indeks Nikkei 225 naik 1,73% ke level 63.268 pada penutupan Selasa (27/10), mengakhiri penurunan selama tiga sesi berturut-turut. Penguatan mengikuti rebound Wall Street dan kembali meningkatnya optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) setelah Anthropic mengajukan IPO.

Sentimen positif terhadap AI turut mendorong saham teknologi dan semikonduktor Jepang. Advantest melonjak 9,6%, Ibiden naik 9,1%, SoftBank Group menguat 5,2%, Lasertec 5,1%, dan Tokyo Electron bertambah 2,6%.

Investor juga menantikan laporan keuangan sejumlah perusahaan semikonduktor besar, termasuk Samsung dan SK Hynix, serta raksasa teknologi AS seperti Amazon, Alphabet, dan Microsoft. Kinerja perusahaan tersebut akan menjadi indikator penting mengenai kekuatan permintaan dan prospek investasi AI.

Di sisi makroekonomi, pasar bersiap menghadapi keputusan sejumlah bank sentral pekan ini. The Fed, ECB, dan Bank of Japan secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga, sehingga investor akan mencermati pernyataan dan panduan kebijakan untuk menentukan arah pasar berikutnya.

Analisis Newsmaker: Rebound Nikkei menunjukkan minat investor terhadap saham AI kembali menguat setelah tekanan sebelumnya. Namun, keberlanjutan kenaikan masih bergantung pada hasil laporan perusahaan teknologi dan prospek permintaan chip. Jika kinerja sektor AI tetap kuat, saham semikonduktor berpotensi mempertahankan momentum dan menopang Nikkei. (srh)  PT Rifan Financindo.


Sumber : NewsMaker


Monday, October 26, 2026

Nikkei Ditutup Melemah, Saham Sektor Cip Kembali Menekan Indeks

 


Rifan Financindo - Indeks Nikkei 225 ditutup turun 503,51 poin, atau 0,80%, ke level 62.189,65 pada sesi perdagangan Senin (26 Oktober 2026). Penurunan ini menandai pelemahan selama tiga sesi berturut-turut, yang terutama dipicu oleh melemahnya saham-saham sektor teknologi dan semikonduktor.

Saham-saham yang berkaitan dengan cip kembali menjadi beban utama bagi indeks, menyusul tekanan serupa pada sektor teknologi di Wall Street. Advantest menjadi salah satu penyumbang penurunan terbesar, diikuti oleh Tokyo Electron dan sejumlah saham terkait semikonduktor lainnya. Tren ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap valuasi di sektor teknologi serta prospek investasi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).

Sebaliknya, saham sektor energi menguat seiring dengan harga minyak yang tetap tinggi, didorong oleh kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan di Timur Tengah. Inpex, JGC Holdings, dan Mitsubishi Corp termasuk di antara saham yang mencatatkan kenaikan, sehingga membantu menahan indeks Jepang agar tidak terkoreksi lebih dalam.

Sentimen pasar masih dibayangi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah. Tingginya harga minyak memicu kekhawatiran mengenai biaya energi di Jepang, sementara para investor terus memantau hubungan antara Amerika Serikat dan Iran serta potensi dampaknya terhadap ekonomi global. Akibatnya, investor kini menjadi lebih selektif dalam menentukan posisi investasi mereka.

Pergerakan Nikkei ke depan akan dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak, kinerja saham teknologi global, laporan laba perusahaan-perusahaan Jepang, serta keputusan mendatang dari Bank of Japan (BoJ). Setelah mengalami koreksi dalam beberapa sesi terakhir, pasar masih menghadapi ketidakpastian yang signifikan menjelang berbagai peristiwa ekonomi penting dan perkembangan kebijakan moneter yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.  Rifan Financindo.


Sumber : NewsMaker

Sunday, October 25, 2026

Bursa Jepang Memerah, Investor Mulai Cemas!

 


PT Rifan - Bursa saham Jepang kembali ditutup melemah pada perdagangan Jumat (23/10/2026), dengan indeks Nikkei 225 turun 0,25%. Penurunan tersebut dipicu oleh tekanan pada sektor kertas dan pulp, transportasi, serta komunikasi. Sentimen investor masih dibayangi ketidakpastian pasar global, terutama kekhawatiran terhadap prospek saham teknologi dan meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi.

Tekanan jual terlihat pada sejumlah saham unggulan Jepang. TDK Corp mencatat penurunan sebesar 5,61% ke level 2.624,50 yen, diikuti Hitachi yang melemah 4,37% menjadi 5.562 yen dan Chiba Bank turun 3,87% ke posisi 2.371,50 yen. Secara keseluruhan, sebanyak 2.336 saham mengalami penurunan di Bursa Tokyo, sementara 1.165 saham menguat dan 236 saham tidak mengalami perubahan. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual masih meluas, meskipun penurunan indeks utama relatif terbatas.

Di tengah pelemahan pasar, beberapa emiten berhasil mencatatkan kenaikan signifikan. Saham Mercari melonjak 7,33% menjadi 3.704 yen, disusul Aeon yang menguat 4,51% ke level 1.181 yen dan Shiseido naik 3,92% menjadi 3.709 yen. Namun, penguatan sejumlah saham tersebut belum cukup untuk mengangkat Nikkei ke zona positif. Sementara itu, indeks volatilitas Nikkei meningkat 16,60% menjadi 35,97, mencerminkan meningkatnya perkiraan gejolak harga di pasar.

Dari pasar komoditas, harga minyak dunia masih mengalami penguatan akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi. Minyak Brent berjangka Desember naik 1,11% menjadi US$114,43 per barel, sedangkan WTI menguat 1,33% ke level US$100,79 per barel. Sebaliknya, emas berjangka Desember turun 0,82% menjadi US$4.027,20 per troy ounce. Indeks dolar AS berjangka turut menguat 0,11% menjadi 101,56, sementara pasangan USD/JPY naik 0,18% ke level 157,06.

Ke depan, pergerakan pasar saham Jepang diperkirakan masih dipengaruhi arah Wall Street, perkembangan harga minyak, dan kebijakan suku bunga global. Lonjakan biaya energi berpotensi membebani perusahaan Jepang yang bergantung pada impor bahan bakar, sedangkan ketidakpastian sektor teknologi dapat menjaga investor tetap berhati-hati. Meski Nikkei hanya melemah tipis, meningkatnya volatilitas dan banyaknya saham yang turun menunjukkan bahwa tekanan pasar belum sepenuhnya mereda menjelang perdagangan pekan depan. PT Rifan.

Sumber : NewsMaker

Thursday, October 22, 2026

Nikkei Anjlok, Saham AI Berguguran!

 


PT Rifan Financindo Berjangka - Bursa saham Jepang kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat (23/10/2026), dengan indeks Nikkei 225 merosot 1,6% ke sekitar level 61.900, sekaligus menyentuh posisi terendah dalam hampir tiga bulan terakhir. Pelemahan ini mengikuti aksi jual saham teknologi di Wall Street pada perdagangan sebelumnya, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tingginya valuasi perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Tekanan tersebut membuat investor mulai mengurangi eksposur terhadap saham berisiko dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman.

Saham-saham teknologi menjadi penyumbang utama penurunan indeks, terutama perusahaan semikonduktor, produsen cip memori, dan emiten yang berkaitan dengan pengembangan AI. Saham Kioxia anjlok 7,6%, SoftBank Group merosot 7,5%, Fujikura melemah 6,8%, Tokyo Electron turun 6%, dan Advantest kehilangan 4,2%. Penurunan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa ekspektasi pertumbuhan industri AI yang terlalu tinggi dapat membuat saham teknologi rentan mengalami koreksi.

Sentimen negatif pasar semakin besar akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Israel telah menyiapkan rencana potensi serangan baru terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS pada November mendatang. Kekhawatiran terhadap kemungkinan perluasan konflik mendorong investor mencari perlindungan pada aset seperti obligasi pemerintah dan yen Jepang, sekaligus mengurangi minat terhadap saham.

Tekanan jual juga meluas ke sektor keuangan dan industri, meskipun sejumlah saham sektor konsumsi menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Sepanjang pekan ini, indeks Nikkei telah kehilangan lebih dari 5%, menggambarkan memburuknya sentimen investor terhadap pasar saham Jepang. Perpaduan antara kekhawatiran valuasi saham AI, meningkatnya risiko geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi global membuat pelaku pasar semakin berhati-hati dalam mengambil posisi.

Ke depan, arah pergerakan Nikkei diperkirakan masih dipengaruhi kondisi Wall Street, perkembangan konflik Timur Tengah, serta perubahan nilai tukar yen terhadap dolar AS. Penguatan yen berpotensi menekan prospek pendapatan perusahaan eksportir Jepang, sementara berlanjutnya aksi jual saham teknologi dapat memperbesar tekanan terhadap indeks. Jika sentimen negatif belum mereda, Nikkei berisiko melanjutkan pelemahan. Namun, stabilisasi saham teknologi global dan berkurangnya ketegangan geopolitik dapat membuka peluang pemulihan pasar. PT Rifan Financindo Berjangka.


Sumber : NewsMaker

Wednesday, October 21, 2026

Nikkei Menguat, Saham AI Jadi Penggerak Utama

 


PT Rifan Financindo - Indeks Nikkei 225 ditutup menguat 0,85% ke level 64.621 pada perdagangan Rabu (21/10), berbalik dari posisi terendah dalam sebulan. Penguatan terutama didorong saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) setelah kinerja positif perusahaan teknologi AS meningkatkan optimisme terhadap keberlanjutan investasi AI.

Sejumlah saham teknologi Jepang mencatat penguatan, termasuk Kioxia Holdings, Advantest, SoftBank Group, Lasertec, dan Taiyo Yuden. Sentimen positif juga merambat ke sektor keuangan, dengan Mitsubishi UFJ dan Sumitomo Mitsui ikut menguat setelah sebelumnya mengalami tekanan.

Namun, penguatan Nikkei mulai kehilangan momentum menjelang penutupan karena harga minyak kembali naik. Ketidakpastian mengenai negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran inflasi, sehingga investor tetap berhati-hati terhadap prospek biaya dan kebijakan moneter.

Dari sisi ekonomi, ekspor Jepang kembali tumbuh pada September dan mencatat ekspansi untuk bulan ke-13 berturut-turut. Pertumbuhan tersebut terutama didukung permintaan kuat terhadap semikonduktor dan produk terkait AI, meski laju pertumbuhan ekspor masih berada di bawah ekspektasi pasar. (asd) PT Rifan Financindo.


Sumber : NewsMaker