Monday, October 5, 2026

Nikkei Melonjak 2,45%, Saham Teknologi Pimpin Penguatan

 


PT Rifan - Indeks Nikkei 225 ditutup menguat tajam pada perdagangan Senin, naik 2,45% dan menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan. Penguatan pasar Jepang terutama ditopang sektor properti, perbankan, dan tekstil, sementara sentimen terhadap saham teknologi juga terlihat cukup kuat.

Saham Renesas Electronics menjadi salah satu penggerak utama dengan kenaikan 8,03%, disusul TDK yang menguat 7,79% dan Disco Corp naik 5,71%. Penguatan saham-saham teknologi tersebut membantu menjaga momentum positif Nikkei hingga akhir perdagangan.

Di sisi lain, beberapa saham masih berada di zona merah. Shionogi turun 4,49%, Idemitsu Kosan melemah 2,15%, sementara Sumitomo Pharma terkoreksi 2,14%. Secara keseluruhan, jumlah saham yang menguat sedikit lebih banyak dibandingkan saham yang turun.

Sentimen pasar juga membaik seiring penurunan volatilitas. Nikkei Volatility Index turun 1,48% ke 22,58, menunjukkan kekhawatiran investor mulai mereda setelah tekanan yang terjadi pada sesi sebelumnya.

Dari pasar eksternal, harga minyak melemah dengan WTI berada di sekitar US$89,97 per barel dan Brent di US$101,53 per barel. Sementara itu, emas menguat ke sekitar US$4.183,62 per troy ounce. Di pasar valuta asing, USD/JPY turun ke sekitar 157,66, sementara EUR/JPY melemah ke 176,44.

Analisis Newsmaker: Penguatan Nikkei mencerminkan kembalinya minat investor terhadap saham Jepang, terutama sektor teknologi dan finansial. Namun, arah berikutnya masih akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan yen, yield global, harga energi, serta ekspektasi kebijakan Bank of Japan. Jika yen tetap stabil dan tekanan eksternal mereda, momentum penguatan Nikkei berpotensi berlanjut. PT Rifan.


Sumber : Newsmaker


Sunday, October 4, 2026

Nikkei Melemah, SoftBank dan Nissan Jadi Beban

 


PT Rifan Financindo Berjangka - Indeks Nikkei 225 turun 0,87% pada penutupan perdagangan Jumat(2/10), dengan tekanan terbesar datang dari sektor Kertas & Pulp, Transportasi, dan Komunikasi. Aksi jual berlangsung cukup luas di Bursa Efek Tokyo, dengan 2.763 saham melemah, dibandingkan 759 saham yang menguat.

Tekanan cukup besar terlihat pada sejumlah saham utama. SoftBank Group anjlok 5,83%, Nissan Motor turun 4,97%, sementara Terumo melemah 4,59%. Nissan bahkan menyentuh level terendah dalam lima tahun, menunjukkan tekanan yang cukup kuat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Di sisi lain, beberapa saham berhasil bergerak positif. Resonac Holdings melonjak 8,71%, Furukawa Electric menguat 7,68%, dan BayCurrent naik 6,15%. Namun, penguatan tersebut belum mampu mengimbangi dominasi saham yang berada di zona merah.

Volatilitas pasar juga meningkat. Nikkei Volatility Index naik 4,99% menjadi 22,92, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor. Di pasar valuta asing, USD/JPY turun 0,14% ke 157,87, sedangkan EUR/JPY melemah tipis ke 177,68.

Pergerakan komoditas turut menjadi perhatian. WTI turun 1,36% menjadi US$91,61 per barel, sementara Brent melemah 0,98% ke US$101,31. Di sisi lain, kontrak emas Desember naik 0,19% menjadi US$4.210,34 per troy ounce, sementara indeks dolar berjangka turun 0,18% ke 101,70.

Dengan tekanan yang tersebar di berbagai sektor dan volatilitas yang meningkat, investor Jepang akan mencermati perkembangan harga minyak, pergerakan yen, serta sentimen pasar global. Arah yield obligasi dan prospek kebijakan moneter global juga tetap menjadi faktor penting bagi pergerakan saham Jepang dalam sesi berikutnya.(gn) PT Rifan Financindo Berjangka.

Sumber : NewsMaker

Thursday, October 1, 2026

Nikkei Koreksi, Inflasi Tokyo dan Harga Minyak Jadi Beban

 


PT Rifan Financindo - Indeks Nikkei 225 turun 0,6% ke sekitar 68.500 pada perdagangan Jumat(2/10), mengakhiri penguatan selama dua sesi sebelumnya. Tekanan datang dari kenaikan harga minyak di tengah kekhawatiran eskalasi konflik AS-Iran dapat mengganggu pasokan energi Timur Tengah dan kembali meningkatkan tekanan inflasi.

Sentimen pasar juga dipengaruhi data inflasi inti Tokyo yang meningkat menjadi 2,7% pada September, melampaui target 2% Bank of Japan (BOJ) untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan. Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi, sehingga investor kembali mencermati prospek kebijakan moneter Jepang.

Dari sisi korporasi, SoftBank Group menyelesaikan tahap ketiga sekaligus terakhir dari investasi lanjutan senilai US$10 miliar di OpenAI. Dengan tambahan tersebut, total investasi SoftBank di perusahaan kecerdasan buatan (AI) tersebut mencapai sekitar US$64,6 miliar untuk kepemilikan saham sekitar 13%.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar mengalami tekanan. Kioxia turun 2,3%, SoftBank melemah 3,8%, Taiyo Yuden terkoreksi 3,3%, Fast Retailing turun 1,5%, dan Toyota melemah 1,8%. Penurunan tersebut menunjukkan tekanan cukup luas di sejumlah sektor utama pasar Jepang.

Meski terkoreksi pada Jumat, Nikkei masih berada di jalur kenaikan lebih dari 3% sepanjang pekan, yang menjadi penguatan mingguan ketiga secara berturut-turut. Investor kini akan mencermati perkembangan harga energi, inflasi Jepang, serta arah kebijakan BOJ untuk melihat bagaimana pasar saham merespons tekanan inflasi yang kembali meningkat.(gn) PT Rifan Financindo.


Sumber : NewsMaker


Wednesday, September 30, 2026

Nikkei Cetak Level Tertinggi Enam Pekan, Teknologi Melaju

 


Rifan Financindo - Indeks Nikkei 225 menguat 0,9% ke atas level 67.000 pada perdagangan Kamis (01/10), melanjutkan kenaikan untuk sesi kedua berturut-turut sekaligus mencapai level tertinggi dalam enam pekan. Penguatan terutama ditopang oleh saham teknologi dan perusahaan yang berkaitan dengan industri kecerdasan buatan (AI).

Sentimen positif terhadap sektor teknologi muncul setelah Micron Technology memberikan prospek kinerja yang optimistis, meningkatkan ekspektasi terhadap permintaan chip global. Perkembangan teknologi AI juga menjadi perhatian setelah Google mulai meluncurkan Gemini 4 Argon, yang turut memperkuat sentimen terhadap perusahaan yang memiliki eksposur terhadap perkembangan AI.

Dari Amerika Serikat, data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang lebih rendah dari perkiraan turut memberikan dukungan terhadap aset berisiko. Data tersebut mendorong investor mengurangi taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan ini, meskipun tingginya harga minyak dan imbal hasil obligasi masih menjadi risiko bagi pasar global.

Dari dalam negeri, sentimen manufaktur Jepang juga menunjukkan perbaikan. Data bank sentral Jepang menunjukkan sentimen sektor manufaktur meningkat pada kuartal ketiga dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari delapan tahun. Kondisi tersebut memberikan tambahan dukungan terhadap prospek perusahaan Jepang di tengah penguatan pasar saham.

Sejumlah saham teknologi mencatat kenaikan signifikan, dengan Kioxia Holdings naik 4,1%, Advantest 4,7%, SoftBank Group 2,5%, Taiyo Yuden 2,5%, dan Murata Manufacturing 4,5%. Meski demikian, investor tetap mencermati pergerakan harga energi dan yield obligasi global yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga serta valuasi saham. Nikkei selanjutnya akan menghadapi ujian untuk mempertahankan momentum di atas level 67.000. Rifan Financindo.


Sumber : NewsMaker

Tuesday, September 29, 2026

Saham Jepang Melemah, Risiko Inflasi Jadi Sorotan

 


PT Rifan - Indeks Nikkei 225 melemah 0,6% dan ditutup pada level 65.481, sementara indeks Topix turun 1,72% ke posisi 4.041 pada perdagangan Selasa(29/9). Penurunan tersebut memperpanjang tekanan dari sesi sebelumnya akibat kenaikan imbal hasil obligasi global dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak inflasi energi terhadap kebijakan moneter.

Kenaikan harga minyak kembali menjadi perhatian investor setelah pejabat Iran dilaporkan mulai meragukan tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat sebelum pemilihan umum sela AS pada November. Ketidakpastian tersebut meningkat setelah Presiden Donald Trump menolak proposal terbaru dari Tehran terkait pembukaan kembali jalur energi strategis.

Tekanan terhadap pasar saham Jepang juga diperkuat oleh faktor teknikal perdagangan, dengan lebih dari separuh saham konstituen indeks Topix memasuki status ex-dividend. Kondisi tersebut mendorong aksi ambil untung setelah sejumlah saham sebelumnya mencatatkan penguatan.

Dari sisi sektor, saham berkapitalisasi besar mengalami tekanan cukup signifikan, terutama dari sektor teknologi, keuangan, dan konsumer. SoftBank Group turun 3,4%, Mitsubishi UFJ melemah 3,5%, Sumitomo Mitsui terkoreksi 4%, sementara Toyota Motor turun 3,5% dan Nintendo melemah 1,3%.

Ke depan, investor akan terus mencermati perkembangan harga energi, arah imbal hasil obligasi global, serta prospek kebijakan suku bunga bank sentral utama. Jika tekanan inflasi akibat energi terus meningkat, pasar akan semakin memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat, yang dapat membatasi ruang penguatan saham Jepang dalam jangka pendek.(gn) PT Rifan.


Sumber : NewsMaker


Monday, September 28, 2026

Nikkei Tertekan, Yield AS dan Minyak Jadi Beban Pasar


PT Rifan Financindo Berjangka - Indeks Nikkei 225 melemah 0,8% ke bawah level 65.500, sementara indeks Topix turun 1,4% ke sekitar 4.055 pada perdagangan Selasa(29/9). Pelemahan ini memperpanjang tekanan dari sesi sebelumnya akibat kenaikan imbal hasil obligasi global yang meningkatkan kekhawatiran terhadap kebijakan moneter lebih ketat.

Tekanan terhadap saham Jepang mengikuti pergerakan negatif Wall Street setelah yield Treasury AS tenor 10 tahun kembali menembus 5,2%, sementara yield obligasi 30 tahun berada di sekitar 5,55%. Kenaikan imbal hasil tersebut mencerminkan meningkatnya ekspektasi pasar bahwa inflasi yang didorong oleh harga energi dapat membuat bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Dari sisi eksternal, harga minyak kembali melanjutkan penguatan setelah muncul laporan bahwa pejabat Iran mulai meragukan tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat sebelum pemilu sela AS pada November. Ketidakpastian tersebut meningkat setelah Presiden Donald Trump menolak proposal terbaru Tehran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Kenaikan biaya energi menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan tekanan inflasi global dan memengaruhi prospek kebijakan moneter. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan terhadap saham-saham yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga, terutama sektor teknologi, keuangan, dan konsumer.

Sejumlah saham unggulan Jepang mengalami penurunan, termasuk SoftBank Group yang turun 2,1%, Mitsubishi UFJ melemah 2,5%, dan Toyota Motor terkoreksi 2,7%. Ke depan, investor akan mencermati perkembangan yield global, harga minyak, serta arah kebijakan bank sentral utama sebagai faktor utama yang menentukan pergerakan pasar saham Jepang.(gn) PT Rifan Financindo Berjangka.


Sumber : NewsMaker


Sunday, September 27, 2026

Saham Chip Angkat Nikkei 0,8%

 


PT Rifan Financindo - Indeks Nikkei 225 menguat sekitar 0,8% ke level 66.877,70 pada perdagangan Senin (28/09) , mengikuti sentimen positif dari Wall Street pada akhir pekan lalu. Meredanya tekanan jual di pasar obligasi Treasury AS turut memperbaiki selera risiko investor di pasar saham Jepang.

Saham-saham terkait industri semikonduktor menjadi penopang utama kenaikan pasar. Advantest menguat sekitar 3,3%, SoftBank Group naik 2,5%, sementara Screen Holdings melonjak sekitar 4,3%, mencerminkan kembali meningkatnya minat investor terhadap sektor teknologi.

Sentimen positif dari Amerika Serikat muncul setelah saham-saham Wall Street ditutup menguat pada Jumat. Tekanan terhadap obligasi pemerintah AS mulai mereda, memberikan ruang bagi investor untuk kembali masuk ke aset berisiko, termasuk saham teknologi yang sebelumnya tertekan oleh kenaikan imbal hasil.

Sementara itu, dolar AS diperdagangkan di sekitar 157,58 yen, melemah dibandingkan posisi 158,15 yen pada penutupan pasar saham Tokyo Jumat lalu. Pergerakan yen turut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi prospek pendapatan perusahaan-perusahaan eksportir Jepang.

Meski Nikkei bergerak menguat, investor masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran terkait gencatan senjata selama tujuh hari. Ketidakpastian geopolitik tersebut masih menjadi risiko bagi sentimen pasar, terutama jika kembali memicu lonjakan harga energi dan volatilitas di pasar global. PT Rifan Financindo.

Sumber : NewsMaker