Tuesday, November 3, 2026

Nikkei Ditutup Turun, Saham Teknologi Tertekan

 


PT Rifan Financindo Berjangka - Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,29% pada perdagangan Senin (2/11) setelah tekanan pada sektor kertas dan pulp, transportasi, serta komunikasi membebani pasar saham Jepang. Sentimen pasar cenderung negatif, dengan jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat di Bursa Efek Tokyo.

Di antara saham yang mencatat kenaikan terbesar, NGK Corporation melonjak 10,95%, diikuti Lasertec yang menguat 8,01% dan Sapporo Breweries naik 7,72%. Kenaikan sejumlah saham tersebut membantu membatasi pelemahan indeks secara keseluruhan.

Sebaliknya, tekanan tajam terjadi pada Screen Holdings yang anjlok 18,96%, Kioxia Holdings turun 15,78%, dan Alps Alpine merosot 10,96%. Saham Alps Alpine bahkan menyentuh level terendah dalam 52 minggu, mencerminkan tekanan jual yang cukup kuat pada sejumlah perusahaan teknologi dan manufaktur.

Tekanan pasar juga terlihat dari lonjakan Nikkei Volatility Index sebesar 31,09% menjadi 33,82. Di Bursa Efek Tokyo, sebanyak 2.490 saham ditutup melemah, hanya 1.044 saham yang menguat, sementara 205 saham berakhir tidak berubah, menunjukkan sentimen negatif cukup merata.

Dari pasar global, USD/JPY menguat ke sekitar 157,83 sementara indeks dolar AS turun tipis ke 101,68. Harga minyak mentah juga melemah tajam, sedangkan kontrak emas menguat ke sekitar US$3.916 per troy ounce. Kombinasi volatilitas pasar global, pergerakan yen, dan tekanan sektor teknologi masih berpotensi memengaruhi arah Nikkei dalam jangka pendek. PT Rifan Financindo Berjangka.

Sumber : NewsMaker

Monday, November 2, 2026

Nikkei Ditutup Turun, Saham Teknologi Tertekan



PT Rifan Financindo - Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,29% pada perdagangan Senin (2/11) setelah tekanan pada sektor kertas dan pulp, transportasi, serta komunikasi membebani pasar saham Jepang. Sentimen pasar cenderung negatif, dengan jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat di Bursa Efek Tokyo.

Di antara saham yang mencatat kenaikan terbesar, NGK Corporation melonjak 10,95%, diikuti Lasertec yang menguat 8,01% dan Sapporo Breweries naik 7,72%. Kenaikan sejumlah saham tersebut membantu membatasi pelemahan indeks secara keseluruhan.

Sebaliknya, tekanan tajam terjadi pada Screen Holdings yang anjlok 18,96%, Kioxia Holdings turun 15,78%, dan Alps Alpine merosot 10,96%. Saham Alps Alpine bahkan menyentuh level terendah dalam 52 minggu, mencerminkan tekanan jual yang cukup kuat pada sejumlah perusahaan teknologi dan manufaktur.

Tekanan pasar juga terlihat dari lonjakan Nikkei Volatility Index sebesar 31,09% menjadi 33,82. Di Bursa Efek Tokyo, sebanyak 2.490 saham ditutup melemah, hanya 1.044 saham yang menguat, sementara 205 saham berakhir tidak berubah, menunjukkan sentimen negatif cukup merata.

Dari pasar global, USD/JPY menguat ke sekitar 157,83 sementara indeks dolar AS turun tipis ke 101,68. Harga minyak mentah juga melemah tajam, sedangkan kontrak emas menguat ke sekitar US$3.916 per troy ounce. Kombinasi volatilitas pasar global, pergerakan yen, dan tekanan sektor teknologi masih berpotensi memengaruhi arah Nikkei dalam jangka pendek. PT Rifan Financindo.


Sumber : NewsMaker

Sunday, November 1, 2026

Nikkei Kembali Tertekan, Kekhawatiran AI Belum Reda!

 


Rifan Financindo - Bursa saham Jepang kembali melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026), dengan indeks Nikkei 225 turun sekitar 0,3% menuju level 63.000 pada awal sesi perdagangan. Penurunan ini memperpanjang tekanan dari akhir pekan lalu, ketika saham-saham teknologi mengalami aksi jual akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI). Investor mulai mempertanyakan kemampuan perusahaan teknologi menghasilkan keuntungan yang sebanding dengan besarnya dana yang dikeluarkan untuk pengembangan AI, sehingga minat terhadap saham berisiko kembali berkurang.


Tekanan terhadap pasar Jepang mengikuti pelemahan Wall Street pada Jumat lalu, terutama setelah saham Intel anjlok hampir 30% dan mencatat penurunan harian terdalam dalam lebih dari empat dekade. Perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat tersebut memberikan proyeksi pendapatan yang lebih lemah dari perkiraan, di tengah perlambatan permintaan komputer pribadi dan meningkatnya biaya pengembangan teknologi. Perkembangan ini memperbesar kekhawatiran bahwa belanja besar untuk infrastruktur AI belum tentu menghasilkan pertumbuhan keuntungan dalam waktu dekat. Sentimen tersebut kemudian menyebar ke pasar saham Asia, termasuk Jepang yang memiliki banyak perusahaan pemasok komponen dan peralatan semikonduktor.


Di pasar domestik, saham-saham teknologi Jepang menjadi salah satu kelompok yang mengalami tekanan paling besar. Kioxia Holdings merosot sekitar 13%, Ibiden melemah 6%, dan Screen Holdings turun 5,8%. Penurunan tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek permintaan cip dan komponen elektronik. Tekanan juga meluas ke sektor perbankan, dengan Mitsubishi UFJ turun 2,3%, Sumitomo Mitsui melemah 2,6%, serta Mizuho Financial terkoreksi 2,5%. Pelemahan di berbagai sektor ini menunjukkan bahwa kekhawatiran pasar tidak lagi terbatas pada perusahaan teknologi, tetapi mulai memengaruhi sentimen investasi secara lebih luas.


Selain perkembangan saham teknologi, investor juga menantikan data pertumbuhan upah Jepang yang akan memberikan gambaran mengenai kekuatan konsumsi rumah tangga dan arah kebijakan Bank of Japan (BOJ). Pada pertemuan pekan lalu, BOJ mempertahankan suku bunga di level 1,25%, tetapi memberikan sinyal bahwa inflasi mendasar telah mencapai kisaran target 2%. Meski demikian, bank sentral masih perlu memastikan bahwa tekanan harga tersebut dapat bertahan secara berkelanjutan. Pertumbuhan upah menjadi salah satu faktor penting karena kenaikan pendapatan masyarakat dapat menopang konsumsi sekaligus memberikan ruang bagi BOJ untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneter. Rifan Financindo.

Sumber : NewsMaker

Thursday, October 29, 2026

Nikkei Anjlok, Saham Teknologi Jepang Kembali Tertekan!

 


PT Rifan - Bursa saham Jepang kembali melemah pada perdagangan Jumat (30/10/2026), dengan indeks Nikkei 225 turun sekitar 1,3% hingga bergerak di bawah level 64.000. Penurunan tersebut mengakhiri tren penguatan selama tiga sesi berturut-turut, seiring meningkatnya tekanan jual pada saham-saham teknologi dan semikonduktor. Sentimen negatif muncul setelah laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi Amerika Serikat mengecewakan investor, sehingga memicu kekhawatiran baru mengenai besarnya biaya investasi kecerdasan buatan (AI) dan prospek keuntungan industri teknologi global.

Tekanan terhadap sektor teknologi meningkat setelah saham Amazon merosot sekitar 7% dalam perdagangan setelah jam bursa menyusul pengumuman peningkatan tajam belanja modal. Sementara itu, saham Intel anjlok sekitar 23% setelah perusahaan menyampaikan proyeksi kinerja kuartalan yang lebih lemah dari perkiraan serta mengindikasikan perlambatan pasar komputer pribadi. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran investor bahwa besarnya pengeluaran untuk pengembangan AI belum tentu langsung menghasilkan pertumbuhan keuntungan yang sebanding.

Di Jepang, pelemahan terjadi secara luas pada saham-saham yang berkaitan dengan teknologi dan industri semikonduktor. Kioxia Holdings turun sekitar 6%, Tokyo Electron melemah 3,6%, sementara Advantest terkoreksi 6,1%. Saham SoftBank Group juga kehilangan 4,9%, sedangkan Lasertec mengalami penurunan lebih tajam sebesar 9,1%. Investor kini menantikan laporan keuangan Kioxia dan Tokyo Electron untuk mendapatkan gambaran mengenai permintaan cip, perkembangan investasi AI, serta prospek pertumbuhan industri teknologi Jepang pada beberapa kuartal mendatang.

Selain laporan keuangan, perhatian pasar tertuju pada keputusan kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ) yang dijadwalkan diumumkan pada Jumat. Bank sentral Jepang secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga, tetapi pelaku pasar akan mencermati kemungkinan sinyal pengetatan lanjutan di tengah tekanan inflasi dan pergerakan yen. Jika BOJ memberikan pernyataan lebih hawkish dari perkiraan, saham teknologi berpotensi menghadapi tekanan tambahan akibat meningkatnya biaya pembiayaan. Dengan demikian, arah Nikkei berikutnya akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan teknologi membuktikan hasil investasi AI serta sikap BOJ terhadap prospek suku bunga Jepang. PT Rifan.

Sumber : NewsMaker

Wednesday, October 28, 2026

Nikkei Naik Tiga Hari Beruntun

 


PT Rifan Financindo Berjangka - Indeks Nikkei 225 menguat sekitar 0,9% hingga menembus level 64.500 pada perdagangan Kamis(29/10), memperpanjang kenaikan selama tiga sesi berturut-turut. Sentimen pasar mendapat dukungan setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi, sementara saham teknologi kembali memimpin penguatan bursa Jepang.

The Fed mempertahankan suku bunga, meski dua pejabat bank sentral berbeda pendapat dan mendukung kenaikan. Keputusan tersebut membuat investor tetap mencermati arah kebijakan moneter AS berikutnya, terutama setelah tekanan inflasi masih menjadi perhatian dan peluang pengetatan lanjutan belum sepenuhnya tertutup.

Dari sektor teknologi global, laporan keuangan perusahaan berkapitalisasi besar memberikan sinyal beragam. Pendapatan Alphabet berada di bawah ekspektasi pasar, sedangkan Microsoft membukukan kinerja kuartalan yang lebih kuat dari perkiraan. Perkembangan tersebut membuat investor tetap selektif terhadap saham berbasis teknologi dan kecerdasan buatan.

Di Jepang, saham teknologi kembali menjadi motor utama kenaikan. Kioxia melonjak sekitar 8%, Advantest naik 7,7%, dan Ibiden menguat 5%. Sektor keuangan juga mencatat penguatan, dengan Mitsubishi UFJ dan Mizuho Financial masing-masing naik 1,7%, sementara Sumitomo Mitsui bertambah 1,4%.

Fokus investor selanjutnya beralih ke keputusan kebijakan Bank of Japan. BOJ diperkirakan mempertahankan suku bunga, tetapi pasar akan mencari sinyal mengenai kemungkinan kenaikan pada Desember di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi. Nada kebijakan BOJ akan menjadi faktor penting bagi pergerakan yen serta kelanjutan momentum Nikkei. PT Rifan Financindo Berjangka.

Sumber : NewsMaker

Tuesday, October 27, 2026

Nikkei Rebound 1,73%, Saham AI Kembali Jadi Penggerak

 


PT Rifan Financindo - Indeks Nikkei 225 naik 1,73% ke level 63.268 pada penutupan Selasa (27/10), mengakhiri penurunan selama tiga sesi berturut-turut. Penguatan mengikuti rebound Wall Street dan kembali meningkatnya optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) setelah Anthropic mengajukan IPO.

Sentimen positif terhadap AI turut mendorong saham teknologi dan semikonduktor Jepang. Advantest melonjak 9,6%, Ibiden naik 9,1%, SoftBank Group menguat 5,2%, Lasertec 5,1%, dan Tokyo Electron bertambah 2,6%.

Investor juga menantikan laporan keuangan sejumlah perusahaan semikonduktor besar, termasuk Samsung dan SK Hynix, serta raksasa teknologi AS seperti Amazon, Alphabet, dan Microsoft. Kinerja perusahaan tersebut akan menjadi indikator penting mengenai kekuatan permintaan dan prospek investasi AI.

Di sisi makroekonomi, pasar bersiap menghadapi keputusan sejumlah bank sentral pekan ini. The Fed, ECB, dan Bank of Japan secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga, sehingga investor akan mencermati pernyataan dan panduan kebijakan untuk menentukan arah pasar berikutnya.

Analisis Newsmaker: Rebound Nikkei menunjukkan minat investor terhadap saham AI kembali menguat setelah tekanan sebelumnya. Namun, keberlanjutan kenaikan masih bergantung pada hasil laporan perusahaan teknologi dan prospek permintaan chip. Jika kinerja sektor AI tetap kuat, saham semikonduktor berpotensi mempertahankan momentum dan menopang Nikkei. (srh)  PT Rifan Financindo.


Sumber : NewsMaker


Monday, October 26, 2026

Nikkei Ditutup Melemah, Saham Sektor Cip Kembali Menekan Indeks

 


Rifan Financindo - Indeks Nikkei 225 ditutup turun 503,51 poin, atau 0,80%, ke level 62.189,65 pada sesi perdagangan Senin (26 Oktober 2026). Penurunan ini menandai pelemahan selama tiga sesi berturut-turut, yang terutama dipicu oleh melemahnya saham-saham sektor teknologi dan semikonduktor.

Saham-saham yang berkaitan dengan cip kembali menjadi beban utama bagi indeks, menyusul tekanan serupa pada sektor teknologi di Wall Street. Advantest menjadi salah satu penyumbang penurunan terbesar, diikuti oleh Tokyo Electron dan sejumlah saham terkait semikonduktor lainnya. Tren ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap valuasi di sektor teknologi serta prospek investasi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).

Sebaliknya, saham sektor energi menguat seiring dengan harga minyak yang tetap tinggi, didorong oleh kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan di Timur Tengah. Inpex, JGC Holdings, dan Mitsubishi Corp termasuk di antara saham yang mencatatkan kenaikan, sehingga membantu menahan indeks Jepang agar tidak terkoreksi lebih dalam.

Sentimen pasar masih dibayangi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah. Tingginya harga minyak memicu kekhawatiran mengenai biaya energi di Jepang, sementara para investor terus memantau hubungan antara Amerika Serikat dan Iran serta potensi dampaknya terhadap ekonomi global. Akibatnya, investor kini menjadi lebih selektif dalam menentukan posisi investasi mereka.

Pergerakan Nikkei ke depan akan dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak, kinerja saham teknologi global, laporan laba perusahaan-perusahaan Jepang, serta keputusan mendatang dari Bank of Japan (BoJ). Setelah mengalami koreksi dalam beberapa sesi terakhir, pasar masih menghadapi ketidakpastian yang signifikan menjelang berbagai peristiwa ekonomi penting dan perkembangan kebijakan moneter yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.  Rifan Financindo.


Sumber : NewsMaker