PT Rifan - Saham Jepang melemah pada Jumat (13/2), mengikuti tekanan dari Wall Street yang kembali diguncang kekhawatiran soal belanja modal (capex) AI yang dinilai terlalu tinggi dan belum tentu berujung pada keuntungan yang sepadan. Indeks Nikkei 225 turun 1,2% hingga kembali di bawah 57.000, sementara Topix melemah 0,7% ke 3.855—menjauh dari rekor tertinggi yang sempat dicapai sebelumnya.
Gelombang jual di AS terjadi karena pasar mulai mempertanyakan keberlanjutan “booming” investasi AI, sekaligus mengantisipasi potensi disrupsi terhadap model bisnis tradisional yang menekan berbagai sektor. Efeknya cepat menular ke Asia, termasuk Jepang, terutama pada saham-saham yang dipandang punya eksposur besar terhadap tema AI.
Di Tokyo, SoftBank Group—yang kerap dianggap barometer AI Jepang—anjlok lebih dari 5%, meski perusahaan baru saja kembali mencatat laba kuartalan berkat kenaikan valuasi terkait OpenAI. Tekanan juga menghantam saham lain: Recruit Holdings turun sekitar 7%, sedangkan konglomerat industri Hitachi melemah 4%.
Namun tidak semua ikut tenggelam. Kioxia Holdings justru melonjak 12% setelah membukukan kinerja kuartalan yang kuat, terbantu reli harga NAND yang kembali menguat seiring dorongan permintaan bertema AI. Kioxia jadi pengecualian yang menonjol di tengah sentimen pasar yang sedang defensif.
Meski Jumat terkoreksi, indeks acuan Jepang secara umum masih berpeluang menutup pekan dengan kenaikan. Sentimen jangka menengah tetap ditopang optimisme bahwa agenda kebijakan Perdana Menteri Sanae Takaichi dapat mendorong pertumbuhan domestik tanpa merusak posisi fiskal Jepang—meski investor tetap waspada terhadap volatilitas global yang dipicu isu AI.(mrv) PT Rifan.
Sumber : NewsMaker